The Best Colourful Country – Indonesia

Pembantai Orang Tionghoa 1967

Posted on: January 12, 2014

Saturday, December 29, 2012 4:34:18 PM

mangkok merah
BAB I
PENDAHULUAN

Bab pendahuluan ini merupakan pertanggungjawaban penulis secara ilmiah mengenai penelitian ini. Bab awal ini terdiri dari sembilan sub-bab yaitu; Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kajian Pustaka, Historiografi yang Relevan, Metode Penelitian, Pendekatan Penelitian dan Sistematika Pembahasan.
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah negara yang memiliki masalah etnisitas sangat kompleks. Masalah ini tidak jarang berujung pada konflik antaretnis. Salah satu daerah yang sangat sering dilanda konflik antaretnis dan masih sangat berpotensi terulang kembali adalah Propinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Konflik antaretnis di Kalbar sangat identik dengan aksi pembunuhan, pembakaran rumah dan pengungsian. Identitas etnis bisa dengan begitu saja menjadi ukuran. Konflik etnis terbesar di Kalimantan Barat terjadi pada akhir tahun 1967, ketika terjadi pengusiran terhadap etnis Tionghoa dengan disertai pembunuhan dan penjarahan oleh orang-orang Dayak. Tragedi kemanusiaan yang terjadi antara bulan Oktober – Desember tersebut dikenal dengan nama peristiwa mangkok merah.
Sangat penting untuk mengukur besar kecilnya suatu konflik lewat jumlah korban yang tewas. Akan tetapi untuk mengukur jumlah korban konflik-konflik di Kalbar sangatlah sulit. Pemerintah selalu memberlakukan kontrol yang ketat terhadap pemberitaan konflik yang mengandung kekerasan komunal, terutama kepada media asing. Akibatnya angka-angka mengenai korban yang tewas sering hanya berdasarkan spekulasi, walaupun beberapa penelitian menggunakan perkiraan yang ilmiah. Setidaknya telah terjadi tiga konflik etnis yang memakan korban tewas yang massal, yaitu tahun 1967 (Dayak-Tionghoa), 1996 – 1997 (Dayak-Madura) dan 1999 (Melayu Sambas-Madura).
Penulis sangat yakin bahwa konflik Dayak-Tionghoa tahun 1967 sebagai yang terbesar. Selain berdasarkan jumlah korban tewas, argumen lainnya adalah masalah perimbangan jumlah etnis. Walaupun suku Madura sering berkonflik dengan etnis-etnis lokal terutama Dayak dan Melayu, secara jumlah mereka kecil sekali (kurang dari tiga persen dari seluruh penduduk Kalbar). Sedangkan etnis Tionghoa dapat digolongkan sebagai mayoritas di Kalbar dengan jumlah di atas sepuluh persen, hanya kalah oleh Dayak dan Melayu. Sehingga konflik yang melibatkan orang-orang Tionghoa tentu berdampak lebih besar. Terlebih etnis Tionghoa adalah salah satu pilar utama dalam pola diferensiasi di Kalimantan Barat, mereka adalah kelompok yang mendominasi bidang perdagangan.
Konflik antaretnis yang terjadi pasca lengsernya Sukarno dari kursi kepresidenan dan digantikan oleh Soeharto ini adalah sebuah konflik yang sangat rumit. Konflik ini tidak semata-mata disebabkan masalah ketidakakuran Dayak-Tionghoa. Lebih jauh, peristiwa mangkok merah sangat nyata mendapat pengaruh dari dinamika perpolitikan nasional bahkan internasional. Hal ini tampak jelas dari konstelasi politik sebelum meletusnya kekerasan. Apalagi hubungan Dayak-Tionghoa pada saat itu adalah harmonis. Konflik komunal yang mengusung identitas etnis Dayak dan Tionghoa adalah sesuatu yang sangat mengejutkan. Tidak pernah ada prediksi ataupun spekulasi akan terjadi konflik besar di antara mereka sebelumnya.
Jika ditarik ke belakang, akar peristiwa mangkok merah sesungguhnya berhubungan dengan konfrontasi Indonesia-Malaysia. Konfrontasi tersebut berawal ketika timbul ide pembentukan Federasi Malaysia yang terdiri dari Malaya, Singapura, Serawak dan Sabah pada tahun 1961. Sukarno yang didukung Partai Komunis Indonesia (PKI) segera menuduh Ferderasi Malaysia dibentuk oleh Inggris untuk mengancam kedaulatan Indonesia. Ia menyebut Federasi Malaysia sebagai proyek Nekolim (Neo-Kolonialisme dan Imperialisme) Inggris. Pada tanggal 16 September 1963 Sukarno secara resmi menyatakan konfrontasi dengan Malaysia.
Secara nyata Sukarno mengajak dan mengobarkan semangat seluruh rakyat Indonesia untuk mendukung misi ini. Ia mengajak pemuda-pemuda Indonesia untuk menjadi sukarelawan dalam mengganyang Malaysia. Selain itu, Sukarno juga mendapat dukungan dari para penentang Malaysia di Brunei dan Sarawak. Pada tahun 1963, Presiden Sukarno menugaskan Menteri Oei Tjoe Tat menggalang kelompok ini untuk mendukung konfrontasi melawan Malaysia dan Inggris. Kurang lebih 850 pemuda Tionghoa Serawak menyeberang ke daerah Kalbar dan umumnya mereka adalah orang-orang Tionghoa yang pro-komunis. Pemerintah RI kemudian memberikan latihan kemiliteran dan mempersenjatai mereka. Perkembangan selanjutnya, kelompok ini membentuk Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) ataupun dalam Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS), yang mayoritas etnis Tionghoa. Kedua pasukan tersebut dibawah komando Brigadir Jenderal Supardjo, yang pada saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Tempur IV Mandau dengan pusat kedudukan di Bengkayang, Kalimantan Barat.
Setelah peristiwa G30S, situasi politik Indonesia menjadi sangat mencemaskan. Konflik berdarah dimulai di Jakarta, ketika pada malam tanggal 30 September 1965 enam Jenderal AD (Angkatan Darat) diculik dan dibunuh, disusul oleh ‘drama’ keesokan harinya. Tetapi setelah Soeharto dapat mengendalikan pusat, berlangsung pembantaian orang-orang yang dianggap komunis. Kalimantan Barat baru ‘pecah’ setelah adanya rekonsiliasi antara Indonesia dan Malaysia. Rekonsiliasi ini menciptakan situasi yang kacau, yaitu menjadikan PGRS/Paraku sebagai pendatang liar di daerah perbatasan Serawak dan Kalimantan Barat. Mereka hidup bergerilya, terjepit di antara tentara Indonesia dan Malaysia.
Operasi untuk menumpas gerilyawan PGRS/Paraku berjalan sangat sulit, karena PGRS/Paraku selalu menghindari pertempuran terbuka. Dengan jumlah personil dan persenjataan yang terbatas mereka hanya beroperasi di hutan-hutan. Pemerintah juga mencurigai bahwa kemampuan daya tahan mereka disebakan adanya bantuan dari penduduk Tionghoa setempat. Maka sebagai tindak lanjut orang-orang Tionghoa kemudian dipindahkan ke wilayah pesisir. Tindakan ini dilakukan untuk mengisolasi sumber pangan atau logistik dan intelegen mereka. Selain itu tentu saja untuk mengkonsentrasikan etnis Tionghoa agar lebih mudah diawasi.
Dalam proses pengisolasian tersebut, peranan orang-orang Dayak sangat penting. Oleh TNI, orang-orang Dayak dikerahkan dengan untuk ikut serta membasmi PGRS/Paraku. Awalnya orang-orang Dayak tidak merasa berkepentingan terhadap operasi TNI. Akan tetapi TNI kemudian menggunakan berbagai rekayasa-rekayasa pembunuhan terhadap tokoh-tokoh Dayak dan menjadilan orang Tionghoa sebagai tertuduh. Kemarahan suku Dayak kemudian memaksa mereka mengeluarkan “mangkok merah”. Hal ini kenudian berujung pada tragedi kemanusiaan dalam skala kekejaman yang luas. Orang-orang Dayak menyamaratakan bahwa semua orang Tionghoa masuk ke dalam kategori GTK (Gerombolan Tjina Komunis) dan perlu diusir dari tanah mereka.
Selama tiga bulan, sedikitnya 300 – 3.000 orang Tionghoa terbunuh dan 50.000 – 100.000 lainnya mengungsi ke pantai barat, khususnya di Pontianak dan Singkawang. Kondisi kamp pengungsi juga memprihatinkan terutama pada minggu-minggu awal pengungsian. Akibat kurangnya obat-obatan dan bahan makanan, banyak lagi pengungsi yang meninggal dunia. Peristiwa inilah yang akan menjadi kajian penulis.
Perpolitikan pada masa itu memang sedang mengalami gejolak yang sangat dahsyat. Sebelum tahun 1965, politik nasional tidak memiliki sebuah kekuatan yang dominan. Kaum nasionalis, agamis, dan komunis serta militer masing-masing memainkan intrik untuk menjatuhkan lawan-lawannya dalam memperebutkan kekuasaan. Ditambah lagi dengan politik konfrontasi dalam menghadapi pembentukan Federasi Malaysia oleh Sukarno yang mempersulit masalah dalam negeri. Kesepakatan Soeharto dan Malaysia untuk rekonsiliasi pada tahun 1966 menimbulkan sebuah konsekuensi yang amat tragis bagi masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat. Gejolak-gejolak politik telah terlalu jauh memberikan dampak bagi Kalimantan Barat, yaitu sebuah kekerasan komunal. Naiknya Soeharto ke panggung kekuasaan dan rekonsiliasi Indonesia-Malaysia menimbulkan cerita sedih untuk Kalimantan Barat. Hubungan baik Dayak-Tionghoa menjadi korban atas perubahan-perubahan politik yang terjadi.
Lingkup waktu yang ditelusuri penulis difokuskan pada dekade 1960-an. Pembahasan utama dimulai sejak masa pembentukan PGRS/Paraku pada tahun 1963 karena pada tahun ini PGRS dan Paraku dibentuk oleh ABRI untuk konfrontasi dengan Malaysia. Tahun 1967 di mana kekerasan terhadap etnis Tionghoa Kalbar terjadi merupakan fokus utama dalam penelitian ini. Kurun waktu di atas tahun 1967 digunakan untuk mengetahui dampak-dampak dari peristiwa ini bagi masyarakat Kalbar secara umum dan masyarakat Tionghoa di dalamnya secara khusus. Lingkup tempat meliputi daerah Kalimantan Barat dan Sarawak (Malaysia), dengan konsntrasi konflik di wilayah Kabupaten Pontianak, Bengkayang, Landak dan Sambas.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis mengajukan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana hubungan sejarah etnisitas (terutama Dayak-Tionghoa) di Kalbar sebelum peristiwa mangkok merah?
2. Bagaimana pengaruh perkembangan politik lokal, nasional dan regional terhadap peristiwa mangkok merah?
3. Bagaimana peristiwa mangkok merah terjadi dan dampaknya?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
a. Melatih daya pikir analitis dan objektif dalam menulis karya sejarah.
b. Menerapkan metodologi sejarah kritis yang telah diperoleh selama kuliah, sehingga melahirkan karya sejarah yang bermutu.
c. Sebagai upaya check and recheck dan writing and rewriting terhadap hasil-hasil penelitian yang sudah ada.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui hubungan sejarah etnisitas (terutama Dayak-Tionghoa) di Kalbar sebelum peristiwa mangkok merah.
b. Mengetahui pengaruh perkembangan politik lokal, nasional dan regional terhadap peristiwa mangkok merah.
c. Mengetahui proses terjadinya peristiwa mangkok merah dan dampaknya.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi pembaca
a. Mengerti dan mendapat gambaran yang jelas, benar, dan objektif tentang peristiwa mangkok merah di Kalimantan Barat tahun 1967.
b. Menambah wawasan kesejarahan pembaca tentang sejarah Indonesia secara umum serta sejarah Kalimantan Barat secara khusus.

2. Bagi penulis
a. Mengukur kemampuan penulis dalam meneliti, menganalisis dan merekonstruksi peristiwa masa lampau, serta menyajikannya menjadi suatu karya sejarah.
b. Memperoleh gelar sarjana.

E. Kajian Pustaka
1. Peristiwa Mangkok Merah 1967
Kajian-kajian maupun kesaksian tertulis mengenai peristiwa mangkok merah 1967 memang masih sangat sedikit. Beberapa kajian yang secara khusus membahas konflik komunal ini malah datang dari para peneliti asing. Kurangnya minat dari peneliti lokal untuk mengkaji masalah ini mungkin disebabkan adanya kecemasan bahwa tulisannya akan “membuka luka lama”. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Kalimantan Barat dihuni oleh masyarakat yang sensitif. Konflik berskala kecil mudah disulut untuk menjadi sebuah kekerasan komunal jika menyangkut sentimen etnis. Selain itu, ketersediaan data yang minim juga mempersulit penyusunan kronologis peristiwa.
Artikel yang cukup panjang didapatkan dari tulisan Jamie S. Davidson dan Douglas Kammen dengan judul; Indonesia’s Unknown War and The Lineages of Violence in West Kalimantan, diterbitkan dalam jurnal Indonesia 73, April 2002. Walaupun mengkaji kekerasan tahun 1967, Davidson dan Kammen lebih menitikberatkan penelitiannya pada perkembangan politik dan operasi militer pada dekade 1960-an. Sedikit sekali penjelasan mengenai pola-pola hubungan antaretnis dalam tulisan ini. Tulisan ini banyak membantu dalam penjelasan-penjelasan konflik, dampak terutama latar belakangnya.
Tulisan yang berisi kesaksian tentang peristiwa kekerasan di Kalimantan Barat tahun 1967 didapat dari biografi Herman Josef van Hulten, seorang pastor Belanda yang telah menjadi WNI. Di dalam bukunya yang berjudul; Catatan Seorang Misionaris: Hidupku di Antara Suku Daya (sic), van Hulten secara khusus menuangkan kesaksiannya mengenai peristiwa mangkok merah dalam suatu bab setebal 39 halaman. Sebagai seorang misionaris, wajar apabila tulisannya ini sangat bergaya humanistik.
Seorang jurnalis, Muhlis Suhaeri dengan laporan ivestigasinya; The Lost Generation menghadirkan kisah yang lebih lengkap. Tulisan ini telah memenangkan juara III Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008 Periode II. Seperti kebanyakan jurnalis ivestigasi lainnya, Muhlis Suhaeri menghadirkan tulisannya dengan gaya sastrawi. Tidak mengherankan penggambaran-penggambaran suasana peristiwa mangkok merah sangat kuat di dalam tulisannya. Wanwancara-wawancara saksi dan pelaku di dalam tulisan ini ssangat membantu untuk mengetahui kondisi saat itu secara mendalam.
2. Etnisitas dan Perpolitikan
Kajian tentang etnis Tionghoa di Kalimantan Barat yang sangat lengkap dan bermutu tinggi adalah buku karya Mary Somers Heidhues, Penambang Emas, Petani dan Pedagang di Distrik Tionghoa di Kalimantan Barat, Indonesia. Heidhues mampu menjelaskan proses-proses perubahan sosial yang dialami etnis Tionghoa sejak masa kedatangannya ke Kalbar hingga masa reformasi. Selain itu, ia juga menyinggung peristiwa mangkok merah dan dampaknya secara umum bagi Kalimantan Barat, terutama bagi etnis Tionghoa. Selain itu masih banyak sumber-sumber lain yang digunakan penulis untuk mengetahui eksistensi etnis Tionghoa di Kalimantan Barat.
John Bamba (editor), Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat adalah buku yang mengkaji etnis Dayak secara lengkap. Penjelasan-penjelasan mengenai ritual mangkok merah dan pengayauan didapat dari buku Edi Petebang yang berjudul; Dayak Sakti: Pengayauan, Tariu, Mangkok Merah. Tulisan Edi Petebang banyak membantu dalam mamahami penyebab dan dampak dari ritual mangkok merah.
Sedangkan untuk aspek politik, yang terpenting adalah mengenai PGRS/Paraku serta konfrontasi dan rekonsiliasi Indonesia-Malaysia. Tulisan seorang pelaku penting adalah Peranan Kalimantan Barat dalam Menghadapi Subversi Komunis Asia Tenggara yang ditulis Brigjen Soemadi. Ia adalah Pangdam Tanjungpura tahun 1969 – 1973, ketika gencar-gencarnya operasi penumpasan PGRS/Paraku. Machrus Effendy, Penghancuran PGRS-Paraku dan PKI di Kalimantan Barat adalah tulisan yang juga mengkaji penumpasan PGRS/Paraku dan PKI. Gambaran umum mengenai konfrontasi dan proses rekonsiliasi ditemukan dalam Hidayat Mukmin, TNI dalam Politik Luar Negeri: Studi Kasus Penyelesaian Konfrontasi Indonesia – Malaysia.
F. Historiografi yang Relevan
Historiografi adalah rekonstruksi sejarah melalui proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman masa lampau. Menurut Louis Gottschalk, historiografi adalah rekonstruksi yang imajinatif dari masa lampau bedasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses menguji dan menganalisis secara kristis rekaman masa lampau. Tujuan historiografi yang relevan adalah untuk mengembangkan suatu teori guna memberikan arah dalam pemecahan suatu permasalahan. Kajian historiografi dilakukan dengan mengadakan review terhadap literatur-literatur yang relevan.
Dari historiografi yang relevan itu diharapkan dapat diungkap suatu teori yang dapat memberikan jalan keluar terhadap pertanyaan-pertanyaan penulisannya, atau setidak-tidaknya memberikan inspirasi bagi lahirnya pemecahan permasalahan, atau bahkan melahirkan suatu teori baru. Bagi penulisan sejarah yang orisinal, artinya belum pernah diteliti dan ditulis orang, dan karenaya belum ada historiografinya yang ditulis, maka dalam hubungan ini “studi historiografinya” dapat diganti dengan studi bibliografik.
Sedikit sekali penelitian yang secara khusus membahas peristiwa kekerasan di Kalbar tahun 1967. Satu kajian khusus yang ditemukan oleh penulis adalah Jamie S. Davidson dan Douglas Kammen, Indonesia’s Unknown War and The Lineages of Violence in West Kalimantan. Tulisan setebal 36 halaman yang dimuat dalam jurnal Indonesia edisi April 2002 ini memang relevan dengan penelitian penulis. Subyek yang ditulis adalah peristiwa kekerasan pada akhir tahun 1967 di Kalimantan Barat.
Akan tetapi, penjelasan masalah-masalah budaya dan etnisitas masih sangat kurang dalam tulisan tersebut. Artikel ilmiah ini lebih banyak menceritakan kekerasan 1967 dari sudut pandang politik dan strategi kemiliteran. Hal tersebut tampak jelas dari sumber-sumber primer yang digunakan, yaitu laporan-laporan pihak militer. Kajian kekerasan memang ada, tetapi Davidson dan Kammen tidak menjelaskan secara detail, utamanya mengenai metode kekerasan. Pemanfaatan sumber-sumber lisan dari pelaku dan korban kekerasan masih kurang dalam tulisan ini.
Secara subyek, kajian Davidson dan Kammen dapat dikatakan sama dengan topik yang penulis ambil. Perbedaannya adalah sudut pandang yang diambil. Jika Davidson dan Kammen lebih banyak menggunakan paradigma politik dan militer, maka penulis menambahkannya dengan sudut pandang budaya. Bahkan penulis melakukan penelusuran dari dekade-dekade sebelumnya untuk mengetahui dinamika perpolitikan dan etnisitas di Kalimantan Barat secara utuh.

G. Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian, orang dapat menggunakan berbagai macam metode, sesuai dengan rencana penelitiannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan cara penjelajahan dokumenter, wawancara dan kajian pustaka yang relevan. Metode penelitian sejarah merupakan suatau penyelidikan yang mengaplikasikan metode pemecahan yang ilmiah dari prespektif historis suatu masalah. Metode ini mempunyai maksud untuk memastikan dan menyatakan kembali fakta masa lampau, gejala sosial, atau gejala kebudayaan yang memerlukan imajinasi dan empati.
Landasan utama dari metode sejarah ialah bagaimana menangani bukti-bukti dan bagaimana menghubungkannya. Tujuan penelitian sejarah adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif. Menurut Louis Gottschalk, prosedur penelitian dan penulisan sejarah bertumpu pada empat kegiatan pokok, yaitu; heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi.
Heuristik, yaitu kegiatan untuk menghimpun jejak-jejak masa lampau yang dikenal sebagai data-data sejarah. Data-data inilah yang akan menjadi sumber penelitian penulis. Sartono Kartodirjo mengatakan bahwa sumber merupakan langkah awal dari rekonstruksi sejarah. Sumber pentung untuk menciptakan suatu fakta sejarah yang kemudian menjadi dasar usaha menghidupkan masa lampau. Menurut sifatnya, sumber dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sumber primer dan sumber sekunder.
1. Sumber primer
Louis Gottschalk memberikan definisi bahwa yang dimaksud dengan sumber primer adalah kesaksian langsung dari seseorang dengan mata kepala sendiri atau kesaksian panca indera yang lain atau bisa juga dengan alat mekanis. Secara singkat suatu sumber primer dapat dikatakan sumber primer apabila disampaikan oleh saksi mata. Sumber primer yang dipakai dalam penelitian ini yaitu dengan melalui oral history terhadap pelaku peristiwa yang masih hidup. Meskipun demikian hanya beberapa orang yang dapat dijangkau untuk diwawancarai. Berikut adalah daftar narasumber dalam penelitian ini:
a. Libertus Ahie (saksi, ia adalah putra dari Camat Seluas yang diisukan tewas oleh PGRS/Paraku)
b. Andreas Japri (saksi dan aktivis Palang Merah Internasional)
c. Primus Ador (ikut dalam penyerangan)
d. Paulus Abi (ikut dalam penyerangan)
e. Emmanuel Lias (ikut dalam penyerangan)
f. Hon Nam Kie (korban pengusiran)
g. Cung Tui Jung (korban pengusiran)
h. Fa Chong (korban pengusiran)
i. Bong Kie Cau (korban pengusiran)
j. Zainal Arifin (sukarelawan penumpasan PGRS/Paraku)
k. Wijaya Kurnia (Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa)
2. Sumber sekunder
Menurut Louis Gottschalk yang dimaksud dengan sumber sekunder adalah kesaksian dari seseorang yang tidak hadir dalam peristiwa yang dikisahkan. Adapun menurut Kuntowijoyo bahwa yang disebut sumber sekunder adalah apabila disampaikan oleh seseorang yang bukan saksi mata. Menurut penulis, sumber sekunder sangat berguna untuk memahami secara tepat dan mendalam mengenai latar belakang sumber-sumber dan dokumen sejaman. Selain itu buku-buku yang menjadi sumber sekuder dapat membantu dalam menentukan langkah penelitian selanjutnya.
Verifikasi atau kritik sumber, yaitu kegiatan meneliti apakah sumber-sumber sejarah itu asli, baik bentuk maupun isinya sehingga akan diperoleh fakta-fakta sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan. Agar dapat dipertanggungjawabkan, harus dilakukan kritik ekstern dan intern terhadap sumber-sumber tersebut. Kritik eksternal adalah pemerikasaan otentisitas (keaslian) suatu sumber, agar diperoleh sumber yang sungguh-sungguh asli. Berbeda dengan kritik eksternal yang lebih menitikberatkan pada uji fisik suatu dokumen, maka kritik internal ingin menguji lebih jauh lagi mengenai isi dokumen (kredibilitas).
Interpretasi, yaitu menetapkan makna yang saling berhubungan dari fakta-fakta sejarah yang telah diperoleh setelah diterapkan kritik ekstern dan intern. Beberapa sumber memiliki makna-makna yang tidak tampak atau harus ditelusuri lebih dalam. Interpretasi diperlukan untuk mengungkapkan makna dari sumber-sumber sejarah yang telah terkumpul tersebut.
Historiografi adalah yang terakhir, yaitu penyampaian sintesa yang disajikan dalam bentuk karya sejarah. Kegiatan ini merupakan tahap akhir dari serangkaian proses yang telah dilakukan penulis. Hasil sintesa sangat ditentukan oleh tiga tahap sebelumnya.
H. Pendekatan Penelitian
Di dalam suatu penelitian, suatu totalitas sangat diperlukan, dan untuk itu pendekatan-pendekatan dari ilmu-ilmu lain sangat diperlukan untuk memahami penyebab, proses dan dampak dari terjadinya kasus yang menjadi studi penulis. Selain itu pendekatan penelitian bertujuan untuk menjelaskan dari segi mana kajian sejarah hendak dilakukan, dimensi mana yang diperhatikan dan unsur-unsur mana yang diungkapkannya. Untuk mendukung dan mencapai tujuan dalam penenelitian ini, penulis menggunakan berbagai macam pendekatan. Pendekatan-pendekatan dalam penelitian ini yang digunakan adalah; pendekatan sosiologi, pendekatan antropologi, pendekatan ilmu politik, pendekatan psikologi, pendekatan militer dan pendekatan ekonomi.
Pendekatan sosiologi dalam ilmu sejarah, menurut Max Weber, dimaksudkan sebagai upaya pemahanan interpretatif dalam kerangka memberikan penjelasan (eksplanasi) kausal terhadap perilaku-perilaku sosial dalam sejarah. Penelitian ini sangat memerlukan pendekatan sosiologi, mengingat peristiwa yang menjadi kajian penulis sangat dipengaruhi dan berdampak pada tatanan sosial yang ada.
Pendekatan antropologi mengungkapkan nilai-nilai, status dan gaya hidup, sistem kepercayaan dan pola hidup, yang mendasari perilaku tokoh sejarah. Antropologi dan sejarah pada hakikatnya memiliki objek kajian yang sama, ialah manusia dan dimensi kehidupannya. Pendekatan antropologi diperlukan penulis untuk memahami hubungan antaretnis yang bertikai serta benturan-benturan budaya yang mengikutinya.
Pendekatan ilmu politik, sejarah politik dapat menggunakan berbagai pendekatan sesuai dengan topik yang dipilih. Kegunaan pendekatan politik di dalam peristiwa kekerasan di Kalbar tahun 1967 adalah untuk memahami gejala-gejala politk yang menunjang terjadinya peristiwa tersebut.
Pendekatan militer, diperlukan untuk memahami taktik, trik dan strategi yang digunakan Tentara nasional Indonesia (TNI) dan penumpasan PGRS/Paraku dalam konflik pasca Gestapu di Kalbar. Sedangkan pendekatan ekonomi, diperlukan untuk memahami kondisi ekonomi di Kalbar sebelum, dalam, dan sesudah peristiwa tahun 1967 tersebut. Selain itu menurut penulis terdapat beberapa kasus dengan motif-motif ekonomi sebagai alasan terjadinya kekerasan.

I. Sistematika Pembahasan
Sistematika Pembahasan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran global pada penelitian skripsi ini, sehingga dapat diketahui arah penelitian ini ditujukan.
BAB I – PENDAHULUAN
Bab pendahuluan merupakan pertanggungjawaban penulis secara ilmiah mengenai karya penelitian dan penulisan sejarah. Bab satu berisikan; latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, historiografi yang relevan, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
BAB II – KONFRONTASI DAN TERBENTUKNYA PGRS/PARAKU
Bab dua membahas situasi konfrontasi Indonesia-Malaysia yang menyebabkan persekutuan Indonesia dengan musuh-musuh dalam negeri Malaysia . Konsentrasi pembahasan dalam bab ini adalah mengenai pembentukan PGRS/Paraku sebagai pasukan sukarelawan dalam menghadapi konfrontasi dengan Malaysia yang beroperasi di perbatasan Kalbar – Serawak.
BAB III – TIONGHOA DAN SEJARAH ETNISITAS DI KALIMANTAN BARAT
Bab ini akan menjelaskan gambaran umum fenomena etnisitas di Kalimantan Barat sampai berakhirnya penjajahan Belanda. Bab ini juga akan mengulas interaksi antara etnis-etnis besar di Kalbar pada masa lalu. Fokus utama bab ini adalah penjelasan-penjelasan pengaruh migrasi besar-besaran etnis Tionghoa pada abad ke-18 dan perkembangannya di Kalimantan Barat. Selain tentu saja akan dijelaskan bagaimana pola hubungan Tionghoa dengan etnis lain saat itu.
BAB IV – DINAMIKA PERPOLITIKAN DI KALIMANTAN BARAT
Bab ini membahas gambaran dinamika perpolitikan yang terjadi di tingkat lokal dengan latar belakang politik nasional. Orientasi politik pada tiap-tiap etnis juga akan dibahas dalam bab ini. Selain itu, dampak-dampak perubahan politik terhadap etnis Tionghoa juga akan menjadi salah satu fokus.
BAB V – PERISTIWA MANGKOK MERAH
Bab lima merupakan bahasan utama di dalam penulisan ini. Bab ini akan melukiskan kegagalan militer RI dalam operasi penumpasan PGRS/Paraku yang berimbas pada kekerasan massal terhadap etnis Tionghoa di Kalimantan Barat. Akan dijelaskan pula bagaimana kronologi munculnya mangkok merah dan bagaimana pola-pola kekerasan dilakukan.
BAB VI – TAHUN-TAHUN SETELAH MANGKOK MERAH
Bab enam merupakan bagian pembahasan terakhir di dalam penelitian ini. Bab ini akan menggambarkan nasib etnis Tionghoa di pengungsian. Selain itu akan dijelaskan pula keadaan Kalimantan Barat pada tahun-tahun setelah peristiwa tersebut. Hubungan antaretnis terutama Dayak-Tionghoa pasca kerusuhan juga menjadi kajian dalam bab ini.
BAB VII – KESIMPULAN
Bab ini berisikan kesimpulan yang merupakan temuan-temuan dan jawaban pertanyaan yang diajukan dalam bab pendahuluan.

Link :
http://bilogizma.blogspot.com/2011/11/sejarah-kalimantan-yang-telah-hilang.html
http://dir.groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/58763.
http://goenaar.blogspot.com/2009/11/paraku-pgrs-kambing-hitam-paska.html
http://goenaar.blogspot.com/2009/05/pembantaian-terhadap-orang-orang-cina.html
http://sejarahastrologimetafisika.blogspot.com/2012/08/bedah-buku-peranakan-tionghua-di.html
http://s-kisah.blogspot.com/2012_02_01_archive.html
http://books.google.co.id/books?id=ke8f0s8xNlEC&pg=PT110&lpg=PT110&dq=kisah+pembantai+pgrs+paraku&source=bl&ots=j0BAqMyGHs&sig=cwqm8BIdLcKlzuFbGOZSRJyWeD8&hl=id&sa=X&ei=5bveUOyNMs3PrQfD9YCYAw&redir_esc=y
http://pangalajo.multiply.com/journal/item/8?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
http://warofweekly.blogspot.com/2011/07/10-penguasa-terkejam-termasuk-indonesia.html
http://warofweekly.blogspot.com/2011/07/10-penguasa-terkejam-termasuk-indonesia_03.html

Khusus MetroFile
http://gege258.wordpress.com/2012/04/05/metro-file-sejarah/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Categories

%d bloggers like this: